Monday, November 17, 2008

The Eco Road to Economic Recovery

There’s one major worry in the current economic crisis.

Not “Shall I lose my job?” Not even “Will the banks keep my savings safe?”

But “What short-cuts will we take to get the world’s economy growing again?

All round the world companies are failing or cutting back output, and people are having to survive on much less income than they had last year. In developing countries people are going hungry. In the developed world some very rich people now have fewer billions to worry about than they did before. And more poor people are dependent on state assistance than before.

At least our planet is getting a break from relentless ruin. Fewer people working in industry, driving their cars and trucks about, making steel and aluminium, and turning their heating or cooling systems onto maximum, means that less fossil fuel will be burned in the next year or two than was forecast last year. You can see the indications of this now, in falling oil and commodity prices, and falling deep sea shipping rates.

There’s an eco downside as well, however. News from the UK this past week, for example, was of a small company recycling cardboard that has hit the buffers because demand for toys in the USA has dropped. The toys- all of them!- would have been made in China and packaged in boxes made from recycled cardboard, including some shipped from the UK. So the global recession is hitting global recycling already, and China isn’t even in an official recession yet. More hits on local eco efforts are very likely in the months to come.

The really big danger is that in their efforts to “kick-start” the world economy, the world’s politicians will relax their previous attitudes to carbon emissions, on the basis that economic recovery is more important than the greening of the world economy. It isn’t, of course, it’s just more immediate. But politicians find it very difficult to focus on the long term important issues when the newspaper headlines are screaming about today’s trouble.

In the western democracies the financial crisis is dominating the news, and politicians don’t want to risk their possible non-election by seeming not to act. So there will be a huge temptation to throw money at immediate projects, and damn the consequences. Or to relax environmental rules to help struggling businesses save on costs. Or to cut taxes on fuel to help struggling families.

But now would be the perfect time for government to put resources into eco projects. Major economies should focus their anti-recession spending on the green agenda. No one will complain about extra resources being focused on job creation in new eco industries at a time when every job counts. The global recession is a perfect excuse for finding the extra funds to do this.

It’s also the perfect time for a decisive shift in private consumption towards eco goods, and away from mass-produced environmentally damaging products.

Biome Lifestyle is a UK-based retailer which has the environment at the heart of everything it does. Some of the stories behind its products are inspiring. All of its products avoid the pitfalls of the mass produced, environmentally damaging, stuff you find on the High Street. And all its suppliers are the kind of businesses that will grow without damaging our precious planet in the process.

Find out more about Biome by clicking: ethical products

Friday, November 14, 2008

Tips from Aim – Excel in TOEFL iBT

Number 1: Comparison and contrast

Comparison and contrast is a big part of the TOELF test. Your ability to recognise and communicate these relationships is examined across all parts of the test: in reading, listening, speaking and writing. Let's look at how you can do this, and how to avoid mistakes.

Remember that the iBT is an examination of communication in academic English. This test is asking you to explain the relationships among ideas in written or spoken information. Comparison and contrast implies that similaries or differences exist between several subjects. A likely conclusion would be that either the subjects are more similar or more different, or that one is better than the others.

You will probably never find that the subjects are of equal value. For example, a listening exercise on high-tech lifestyles looks at positive and negative ideas about mobile phones and email. It would be a mistake to jump to a conclusion that they are simply both good and bad. Although the speaker mentions many positive aspects of instant communication, he actually feels that the negative consequences are more important. He thinks that many people don't have time to be creative because they're too busy answering messages. You are asked to see this conclusion.

Comparison means looking at similarities, while contrast focuses on differences. Comparison signals include also, both, similarly, like, comparable, the same and likewise. Contrast signals include but, however, unlike, differences and on the other hand. In addition, please do also listen for changes in intonation that add ideas or suggest opposing opinions. Some relationships are implied, that is, not stated directly. Sarcasm and irony are used, because that's how we naturally use English. Lots of practice helps students with this challenging task.

Students often incorrectly assume that two items must be of equal value because they are being contrasted. Perhaps a preference for harmony, or simplicity in teaching, has led to this. In academic life, you'll hardly ever find two options equally good. It's similar in the TOEFL test. Many questions ask you to make a choice. Do it, and support those choices with reasons and details. You'll be a star. Contact Aim for more details on effective TOEFL iBT preparation


Kita hidup di zaman yang penuh tantangan

Article by AIM originally published in English. Translated by Aim professional translation services

Dari Amerika hingga Irlandia, dari Inggris hingga Indonesia, dan dari Peru hingga Jepang, pesan yang sama terdengar berulang kali.

“Dunia akan mengalami resesi”.

Bahkan - resesi kali ini mungkin tidak seperti yang pernah kita alami selama beberapa generasi belakangan. Kita semua berharap bahwa langkah-langkah yang diambil oleh pemerintah di seluruh dunia akan mengurangi intensitas dan durasinya. Kita juga bisa berharap bahwa Presiden Amerika yang baru akan memimpin negaranya, dan negara kita, agar cepat kembali pada kemakmuran. Akan tetapi untuk saat ini kenyataan yang harus kita hadapi adalah bahwa kita hidup di masa yang penuh tantangan.

Lalu bagaimana sebuah bisnis dapat menghadapi tantangan semacam itu? Bagaimana ia bisa bertahan? Bagaimana ia bisa sukses mengelola tantangan itu?

Ada tiga hal penting yang perlu diingat. Pertama, banyak bisnis yang akan bisa bertahan hidup. Kedua, bisnis-bisnis yang bertahan hidup akan tumbuh menjadi lebih kuat berkat pengalaman mereka. Terakhir, cara untuk bertahan hidup yaitu melakukan hal-hal sederhana dengan cara yang lebih baik daripada saingan anda.

Apa saja hal-hal sederhana yang perlu kita lakukan?

Lagi-lagi ada tiga jawaban di sini.

Pertama, tetaplah fokus untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pelanggan anda. Pelanggan anda juga punya masalah, dan mereka membutuhkan, dan akan menghargai, bantuan yang bisa anda berikan untuk mereka. Terlebih lagi, pada masa-masa sulit, alat penjualan terbaik yang bisa anda miliki adalah kesan baik dari pelanggan yang sudah anda miliki. Di masa resesi seperti ini, pasar akan lebih tegas dan kurang toleran terhadap pelayanan yang buruk, dan tentunya akan lebih kejam dalam memutuskan hubungan dengan penyedia jasa yang tidak kompeten.

Kedua, teruslah menjual. Pasti ada pembeli di luar sana, meskipun akan lebih sulit menemukan dan meyakinkan mereka. Karenanya alat penjualan kita haruslah lebih kuat. Tim sales anda harus memiliki pelatihan dan motivasi yang tinggi. Marketing anda harus inovatif, fleksible, dan sensitif terhadap perubahan-perubahan dalam mood pasar. Harga yang anda tawarkan juga harus fleksible, mengingat bahwa pengeluaran sedang dihemat di mana-mana.

Terakhir, jaga agar pengeluaran anda tetap wajar. Berhati-hatilah ketika memotong anggaran karena beresiko mengganggu tingkat pelayanan yang anda berikan, dan pasar akan sangat sensitif terhadap hal ini. Akan lebih baik kalau kita mengadopsi containment policy: menjaga agar pengeluaran tidak bertambah sampai matahari kembali bersinar. Hal yang tersulit adalah bahwa memotong anggaran sama seperti melakukan operasi pembedahan. Dibutuhkan keterampilan yang sangat tinggi kalau anda tidak ingin membunuh pasien anda. Anda harus menganggap customer service sebagai urat nadi yang menghidupi bisnis anda. Potong anggaran di sana dan anda akan merasakan akibatnya!

Ada sebuah tim ( kursus bahasa inggris)yang membantu bisnis di Indonesia untuk melewati badai krisis. Tim ini sendiri mampu mengendalikan pengeluarannya dengan sangat baik, sambil tetap memberikan pelayanan yang tak ada duanya di Jakarta. Harga yang mereka tawarkan sangat kompetitif, dan dengan demikian membantu para pelanggan mereka menghemat pengeluaran mereka. Meskipun dengan harga kompetitif, produk yang mereka tawarkan adalah yang terbaik. Mereka memberikan pelatihan bahasa Inggris, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh tim customer service di manapun bila mereka ingin mampu bertahan menghadapi tantangan resesi.

We live in challenging times

From the US to Iceland, from the UK to Indonesia, and from Peru to Japan the same message is flashing.

“There is a worldwide recession coming”.

More- it’s a recession that may be on a scale not seen for a generation, maybe not even for a lifetime. We all hope that the actions taken by governments around the world will reduce its intensity, and shorten the period of contraction. As I write we can also hope that the new young American President will lead his own country, and ours, swiftly back to prosperity. But the reality of today is that we live in challenging times.

So how on earth does a business cope with this kind of challenge? How does it survive? How does it manage?

There are three important things to remember. First, many businesses will survive. Secondly the businesses that survive will emerge stronger from the experience. And finally, the way to survive is to do the simple things better than your competition.

What are the simple things we all need to do?

Again, there are three.
First, keep focused on delivering the absolute best service you can to the customers you have. They have their problems too, and they need and will value all the help you can give them. More than this, in hard times the very best selling tool you have is the good opinion of your existing customers. In a recession the market is less forgiving, less liable to make allowances for bad service, more ruthless in cutting out poor suppliers.

Secondly, keep on selling. There’s going to be business out there, but it will be harder to find and much harder to win. Your selling tools need to be sharp. Your sales team must be highly trained and very highly motivated. Your marketing will have to be innovative, flexible, and sensitive to the changes in market mood. Your prices will need to be flexible, too, recognising that cash is tight everywhere.

Finally, keep your costs at the right level. Be careful with cost cutting, because there is a very real danger of damaging the level of customer service, and the market will be ultra-sensitive to that. Better to adopt a containment policy, capping cost growth until the sun starts to shine again. The really difficult thing about cutting costs is that it’s like surgery. It takes high-level skills if you don’t want to kill your patient. You should think of customer service as the main artery that keeps a business alive. Cut into it at your peril!

Aim for English is a firm, specialising in English language training, that is helping Indonesian business to weather the financial storm. With its own costs under tight control, it delivers a level of service second to none in Jakarta. Its pricing is very competitive, helping its customers to conserve their cash. The product it delivers is the best English language training in town, without which the customer service teams of its clients would be far less able to cope with their own recessionary challenges.

Tuesday, September 2, 2008

Find out what's new at Jakarta's pioneering language school by clicking this link:

kursus bahasa inggris

Aim for English. Your future starts here

Monday, June 23, 2008

Business English Training: keys to success

Business English Training: keys to success

We all know why modern business in the non English-speaking world needs the international language. The market for staff English training in many countries, especially those Asia and South America, is growing at a blistering rate, fueled by the rise of globalization and a realization among managers that a certain level of competency in their staff’s English is a must, if their business is going to compete. Of course where the market appears, so do the companies set up to capitalise. Deciding on a language training provider can be daunting, and the unregulated nature of the training industry in most countries can mean huge variation in the quality of the training, and therefore huge variation in the return on investment for the companies’ management. So, what is it that makes some training effective, while other programmes are a waste of time? How can companies minimize the risk of investing in lame-duck language training?

The first piece of advice is to make informed decisions on language training providers based on information from reliable sources. Websites, brochures, marketing emails and fliers can hold a great deal of information, but the reliable most reliable source is a person who has attended or been involved in training elsewhere. One must be careful though, as the ‘famous’ providers - those with strong brand recognition - may be well-known as a result of an over-emphasis on marketing, and not necessarily on quality. ‘Big’ is not always ‘better’ when it comes to training providers; larger establishments usually struggle to find enough good teachers, and compromises are sometimes made. Moreover, while smaller schools tend to be run or heavily influenced by the most important people, the teachers, larger training centres inevitably move towards being driven solely by the bottom line. This is not to say that one should shy away from providers with strong marketing; we’re looking for providers who like to show off their benefits, after all. Be wary of those who aren’t willing to talk about their benefits.

Let’s stop talking about marketing. We are discussing education, and in reality the quality of education comes down to two things; the quality of the teachers and the quality of the courses. Quality of customer service and organisation and coordination by the provider also play a part in your satisfaction, but in terms of return on investment it’s the teachers and the courses that are going to deliver.

Ask about the teachers. Many companies put blind faith in the training provider that they will provide the right people for the job, inevitably causing disappointment when the wonderful teacher promised in the sales pitch to turns out to be useless. Ask to see their resume, ask to meet them. A good training provider will be proud of their teachers and willing to show them off on demand. When you see the resume, bear in mind that experience isn’t everything. While you don’t want a brand new teacher with little experience, many teachers with decades of experience can seem ‘burned out’, as if they have lost the passion for their profession. Look out for teacher training qualifications, and look for their own educational background and work experience. How can someone who never went to university or never worked in a business environment be expected to teach your staff about contemporary business communication? Personality is important, so choose teachers you actually like, choose teachers who your staff will look forward to spending time with, choose teachers who have passion and commitment to their job written all over their face.

Ask about the courses. More to the point, demand courses which are designed to fit your exact needs. Many training providers use generic ‘business English’ courses which are, on the whole, euro-centric, non-specific, and rapidly out of date. The English your sales team needs is very different from the type of language required by your management team, or customer service team. Demand courses designed for your industry; if you’re involved in shipping, make sure that topics are related to shipping, or you could find your staff learning language they will never be able to use. Decide what aspects of your staff’s English to focus on; are they regularly emailing, meeting clients, giving presentations, writing reports or proposals, or using the telephone? Demand that your staff learn the right skills and language. But also gauge the provider’s ability to provide enjoyable programs. Endless photocopied handouts are plain boring. Are the providers going to use communicative, interactive activities? Are the providers going to use modern business technology to teach modern business techniques? What are they going to do to motivate your staff? These are questions to bear in mind when perusing websites and meeting the sales people from the schools. A final tip for effective language training: training is more effective if classes are small, and trainees are divided based on their level of English and specific job responsibilities. Ask the provider how they will assess your staff, and how they plan to organize the trainees into groups. Steer clear of anyone willing to mix abilities and compromise quality by filling classes with dozens of trainees who each have their own learning objectives.

Make sure you clearly define your objectives, and choose the provider who shows you, just as clearly, how they are going to meet your objectives through enjoyable, professional, communicative training delivered by happy, qualified, devoted teachers. In Jakarta, Indonesia, one professional training provider is leading the way in language programmes for businesses. Take a look at www.aimjakarta.com to see how it’s done.

Business English Training in Jakarta

Tuesday, March 25, 2008

Translated by AIM professional translation services

Budaya korporasi dan pembelajaran bahasa

W H Whyte mempublikasikan karyanya, “The Organization Man,” pada tahun 1956. Karya tersebut merupakan upaya awal – bahkan mungkin upaya yang pertama sekali – untuk menggambarkan dampak dari budaya sebuah organisasi terhadap perilaku karyawannya. Sejak tahun 1956 kita semua telah mulai menyadari bahwa ada terdapat berbagai jenis budaya, yang masing-masing disertai dengan jenis-jenis perilaku yang berbeda. Dengan demikian, definisi yang menyatakan bahwa budaya adalah “cara kita melakukan berbagai hal di sekitar kita” merupakan definisi yang tepat.

Budaya korporasi yang kuat adalah hal yang sangat berguna. Ia membuat proses pengambilan keputusan menjadi lebih dapat diprediksi. Ia membantu para perekrut untuk mempekerjakan orang-orang yang akan cocok bekerja di dalan sebuah korporasi. Ia bahkan memberikan kontribusi pada nilai-nilai yang terdapat dalam sebuah merek perusahaan.

Akan tetapi, budaya perusahaan juga dapat memiliki kekurangan ketika para staf diharuskan berperilaku di luar norma budaya mereka. Contohnya, akan sulit bagi seorang manajer yang terbiasa dengan budaya bisnis yang mengalir bebas ketika ia dihadapkan pada penerapan standar-standar keselamatan secara ketat. Itulah sebabnya mengapa di seluruh dunia, bekerja untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi merupakan sesuatu yang sangat berbahaya.

Hampir seluruh budaya korporasi yang efektif akan memberikan penghargaan pada kesuksesan, sementara sebagian besar lainnya akan mencemooh kegagalan. Hal seperti ini cenderung menghasilkan pola pikir yang selalu ingin menghindari resiko pada sebagian besar karyawan. Dan ini adalah pola pikir yang terburuk apabila kita ingin belajar bahasa.

Ketika sebuah organisasi menginginkan karyawannya mempelajari sebuah bahasa asing, seketika itu pula terjadi benturan budaya.

Cobalah pikirkan. Setiap kali seorang pembelajar bahasa membuka mulut, atau mengangkat pena, untuk menghasilkan sepotong ungkapan dalam bahasa asing, ia harus mengambil resiko bahwa apa yang dihasilkannya akan “salah” karena satu atau lain alasan. Biasanya tidak sepenuhnya salah, melainkan kurang tepat atau secara situasional kurang cocok. Semakin sering mereka mengambil resiko, semakin banyak yang akan mereka pelajari. Belajar bahasa berarti berani mengambil resiko. Kalau kita semua menolak menghasilkan sebuah ungkapan bahasa yang mungkin salah, kita tidak akan pernah mampu menggunakan bahasa lain kecuali bahasa asli kita sendiri.

Di tahun-tahun pertama kehidupan kita, kita mempelajari bahasa dengan intensitas yang tinggi. Kita menghasilkan kemajuan yang sangat pesat setiap harinya. Sewaktu kecil, kita tidak tahu bahwa kita harus menghindari kegagalan, jadi kita mulai berbicara dengan mengucapkan berbagai bunyi, lalu meningkat menjadi kalimat berisi satu kata, dan perlahan-lahan kelancaran kita dalam berbicarapun tumbuh.

Sebagai seorang pebelajar yang sudah memasuki usia dewasa, kita mungkin tidak akan pernah belajar dengan kecepatan yang sama seperti halnya kecepatan seorang anak kecil, tetapi kita bisa meningkatkan kesempatan kita dengan secara aktif merengkuh kemungkinan bahwa kita melakukan kesalahan, lalu belajar dari kesalahan tersebut, dan terus maju. Kita perlu mengesampingkan budaya korporasi kita dan berfokus pada proses belajar itu sendiri, dan berhenti memikirkan bahwa apa yang akan kita ucapkan atau tuliskan mungkin “salah”.

Lingkungan fisik yang netral dan santai bisa membantu mengatasi benturan tadi. Jauh dari kantor, kita mungkin akan merasa lebih mudah melupakan budaya kantor. Tetapi tetap saja, guru yang hebat adalah kuncinya. Guru yang akan membantu anda mencapai kemajuan tanpa rasa takut akan kegagalan. Guru yang akan memastikan bahwa proses belajar anda menyenangkan, dan membuat anda terkagum-kagum akan kemajuan yang anda sendiri capai .

Berikut ini adalah link ke sebuah sekolah bahasa yang mengerti tentang benturan antara budaya kantor dan pembelajaran pribadi, dan sekolah ini memiliki guru-guru hebat yang akan membuat kegiatan belajar anda “menyenangkan”. www.aimjakarta.com

Friday, March 21, 2008

Private English classes at Aim:
Aim specialises in private classes, but why should you choose a private class? Well, for some people public classes can be a better option. Some people prefer to be in a larger group, and learn better in a communicative, interactive group class.
However, group classes also have limitations. You must follow the fixed schedule, and you cannot focus on your job, your study programme, or your individual strengths and weaknesses. The amount of attention you receive and the opportunities for you to participate and talk are also limited in public classes.
At Aim, the key to the success of our private classes is flexibility. You choose the days, you choose the times, you choose the teachers, and you choose what you learn.
We will create courses especially for you, focussing on your objectives, your strengths and weaknesses and your individual learning style. For many, the level of attention in a 1-on-1 class, and the amount of time you can spend talking, means that you'll improve more quickly. Plus, if there's something you're working on at work or at university, bring it to class and we can discus it together.
AIM for a private English class. The flexible, customised educational solution!

Tuesday, March 4, 2008

Corporate culture and language learning

W H Whyte published “The Organization Man” in 1956. This was an early- perhaps even the first- attempt to describe the impact that an organisation’s culture has on the way its employees behave. Since 1956 we have all become aware that there are many different types of culture, each with their different types of behaviour. Indeed a useful definition of culture is “the way we do things around here”.

A strong corporate culture is a handy thing to have. It makes decision-making a bit more predictable. It helps recruiters hire people who will fit in. It even contributes to the value of the company’s brand.

A corporate culture can, however, have drawbacks when members of staff have to behave out of their cultural norm. It is, for example, quite hard for managers accustomed to an entrepreneurial freewheeling kind of culture to deal with the enforcement of rigorous safety standards. That’s one reason why, worldwide, construction companies are some of the most dangerous organisations to work in.

Almost all effective corporate cultures reward success. Most discourage failure. This tends to breed a risk-avoiding kind of mindset in most employees. And this is the worst kind of mindset with which to approach language learning.

When an organisation wants an employee to learn a foreign language there is an immediate cultural clash.

Think about it. Every time a language learner opens his or her mouth, or picks up a pen, to produce a piece of foreign language they have to take the risk that what they produce will be “wrong” in some way. Not usually wholly wrong, but inaccurate or situationally inappropriate. The more often they take the risk, the more they will learn. Language learning is all about risk. If we all resisted producing language that might be wrong, none of us would ever learn to speak anything but our mother tongue.

In our first years of life we learn a huge amount of language. We make enormous progress every day. We do not know that we should avoid failure, so we start off by babbling, then progress to one-word sentences, then gradually build up our fluency.

As adult learners we are most unlikely ever to learn at the pace of a small child, but we can improve our chances by actively embracing mistakes, learning from them, and moving on. We need to set our corporate culture aside, focus on the learning process, and stop worrying about whether what we are about to say or write is “wrong”.

A neutral, relaxed physical environment helps. Away from the office we find it easier to forget the office culture. But great teachers are the key. Teachers who will help you progress without fear of failure. Who will make the process fun, and astonish you with the progress you make.

Here’s a link to a language school that understands the clash of corporate culture and individual learning, and that has great teachers who make learning “fun”.

English training and IELTS preparation in Jakarta

Friday, February 29, 2008

The IELTS test: Tips and Strategies (Bahasa Indonesia Version)

Pendahuluan

International English Language Tesing System (IELTS) muncul karna adanya kebutuhan , diantara universitas, sekolah, pemerintahan dan perusahaan untuk sebuah tes Bahasa Inggris yang diakui secara internasional. Sekarang ini, sebuah nilai IELTS yang sudah ditentukan sebelumnya merupakan syarat untuk murid asing yang akan masuk sekolah, Akademi dan universitas di banyak Negara barat. Kebanyakan Negara yang menggunakan Bahasa Inggris sekarang mengharuskan sebuah nilai IELTS tertentu untuk orang-orang yang sedang melakukan proses Visa kerja, keresidenan atau kewarganegaraan .

IELTS sekarang telah menjadi suatu bisnis besar. Tiap minggu, diseluruh dunia, puluhan ribu orang mengikuti tes sedemikian, dimana tiap2 tes mempunyai tujuan pendidikan maupun tujuan perpindahan Negara tinggal. Ini bukan suatu yang mengejutkan, oleh karena itu, kursus2 yang bertujuan untuk mempersiapkan murid untuk tes ini bermunculan dimana-mana. Pada saat kualitas dari kursus persiapan IELTS ini sangat variatif dari satu sekolah ke sekolah yang lain ada beberapa strategi yang sederhana yang tetap ada dalam sebuah kursus persiapan IELTS yang paling sederhanapun. Walaupun agak sulit untuk menyoroti semua tips dan strategi untuk tes ini (beberapa kursus menawarkan durasi 100 jam), artikel ini bertujuan untuk memberikan gambaran besar strategi umum yang harus diketahui oleh seorang kandidat tes, sebelum ia mengikuti tes tersebut.

Tes IELTS memiliki 4 komponen; Mendengar/listening (30 menit ), Membaca/reading (1 jam), Menulis/writing (1 jam) and Berbicara/speaking (12-15 menit). Secara keseluruhan, untuk menyelesaikan tes sekitar 3 jam.

Ada dua macam (modul) dari There are two varieties (modules) of the IELTS tes IELTS. MOdul General training (GT) adalah tes yang digunakan untuk keperluan visa atau untuk masuk ke sekolah tingkat SMA di luar negeri. Module Akademik adalah untuk masuk ke tingkat universitas. Bagian Listening dan speaking dari modul2 tersebut, hampir sama, dan bagian writing dan reading untuk modul GT lebih sederhana. Dalam artikel ini, modul Akademik akan lebih dalam dijelaskan. Pertama, beberapa strategi umum untuk setiap bagian tes. First, some strategies common to all sections of the tes.

Strategi Umum

Baca atau dengar instruksi dengan seksama. Banyak kandidat adalah murid sekolahan atau lulusan perguruan tinggi, dan karena sudah sering mengikuti berbagai macam tes, mereka merasa bahwa membaca instruksi dalam sebuah tes adalah buang waktu. Ini adalah suatu kesalahan besar dalam mengikuti tes IELTS. Singkatnya, kandidat yang tidak mengikuti instruksi dengan benar selalu memberikan jawaban yang salah. Ada berbagai macam instruksi yang diberikan dalam ke empat komponen tes, termasuk ‘jawab dengan menggunakan kata tidak lebih dari 3 kata’ atau ‘jawab dengan menggunakan prase singkat’. Dengan instruksi yang pertama tadi, jawaban yang menggunakan 4 kalimat, seberapa tepatnya pun, adalah salah. Dan dengan instruksi yang terakhir, sebuah kalimat lengkap akan juga dianggap salah.

Atur waktu anda. Anda harus sadar akan waktu dan sadar akan posisi anda dalam tes. Dalam bagian Reading, anda punya waktu satu jam untuk menyelesaikan 3 bagian, maka jangan menghabiskan lebih dari 20 menit untuk tiap bagian. Sederhana! Dalam writing , pastikan bahwa anda tidak menghabiskan lebih dari 20 menit untuk tugas bagian pertama, dan sisakan 40 menit untuk tugas bagian kedua yang lebih penting.

Jangan panik. Kalau menurut kamu bagian dari tes ini adalah sulit, kemungkinan besar, puluhan ribu orang lainnya diseluruh dunia yang mengikuti tes ini berpikiran sama dengan kamu. Bandscore dihitung sesudah hasil dari seluruh dunia dikumpulkan dan, untuk tes yang lebih sulit, jumlah jawaban yang benar yg diperlukan akan lebih sedikit untuk mencapai band score tertentu. Kalau kamu pikir kamu telah melakan suatu bagian tes dengan kurang baik, belajarlah untuk melupakannya dan berkonsentrasi untuk bagian berikutnya. Kemungkinan kamu melakukan lebih baik dari sebelumnya adalah lebih besar, dan tidak ada gunanya kamu kuatir tentang bagian listening kalau kamu sedang mengerjakan bagian reading.

Ada satu atau dua tips dan strategi untuk membantu kamu dalam menghadapi tiap bagian dari tes.

Tes Listening (Tes Mendengar)

Orang sering kali kuatir tentang bagian ini, karena beda denga bagian reading dan writing, ini hanya satu kali kesempatan. Tidak ada kesempatan lagi untuk mendengar ulang rekaman. Jadi, kalau anda ketinggalan, hilanglah selamanya! Inilah sebabnya persiapan sebelum mendengar adalah kunci agar berhasil dalam bagian ini.

Gunakan waktu anda dengan bijak. Anda diberikan waktu sekitar 30 detik untuk membaca tiap bagian sebelum mendengar rekaman, dan jangka waktu yang sama untuk memeriksa jawaban dari tiap bagian sesudah selesai mendengar. Jangan sia-siakan waktu ini.. Gunakan waktu sebelum mendengar untuk membaca instruksi dan pertanyaannya and, sangat penting ramalkan (tebak). Tebak jawaban. Tebak apa yang akan kamu dengar, siapa yang akan berbicara, dimana mereka berbicara dan mengapa ? Tebak jawabannya. Tebak bentuk kata (kata benda, kerja, sifat atau keterangan), atau tebak berdasarkan pengetahuan kamu dan petunjuk2 yang diberikan dalam pertanyaan. Pada akhir tiap bagian, gunakan waktu periksa untuk melihat apakah tebakan kamu benar, jawaban tebakan yang tidak ditulis (jangan pernah membiarkan nomer tampa jawaban/kosong dalam IELTS), penulisan, huruf besar dan grammar..

GarisbawahiUnderlining.Ini adalah ide yang baik untuk menggaris bawahi kata2 penting (Keywords) dalam kalimat pertanyaan. Proses menggarisbawahi akan membantu anda untuk mendengar dan mempersiapkan anda, mungkin dilevel yang tidak anda sadari, sehingga anda bisa mengidentifikasikan pada saat diucapkan dalam suatu percakapan.

Pindahkan jawaban dengan hati-hati. Pada akhir tes listening, anda akan diberikan 10 menit untuk memindahkan jawaban anda ke kertas jawaban. Lakukan ini dengan hati-hati. Gunakan kesempatan ini untuk memeriksa penulisan, grammar dan menebak jawaban yang belum terjawab.

The Reading Tes Reading (Membaca)

Sebuah pertanyaan yang sulit mempunyai bobot nilai yang sama dengan pertanyaan yang mudah. Jadi, jangan buang waktu untuk pertanyaan yang menjebak. Tinggalkan saja, kerjakan yang lebih mudah, nanti kembali lagi.

Baca instruksi dan pertanyaan2 dahulu. Selagi kamu membaca pertanyaan, garisbawahi keywords dan coba pikirkan ‘similies’ (kata yang beda tapi mempunyai arti yang sama. Kata-kata yang ada dalam bahan bacaan biasanya sebuah paraphrase dari pertanyaan tersebut.

Tergantung dengan bentuk pertanyaan, gunakan teknik membaca cepat dan sepintas teks. Membaca dengan cepat teks maksudnya adalah menggerakkan mata anda keatas-bawah, kiri dan kanan teks (bukan membaca tiap baris) untuk mencari sebuah kata atau frase atau suatu informasi yang spesifik. Bayangkanlah cara kita kalau sedang mencari nama dalam buku telpon. Membaca sepintas teks adalah membaca tiap baris kalimat dengan cepat, dengan mengacuhkan kata-kata grammar dan kata-kata yang kita tidak mengerti/tau.

Tes Writing (tes Menulis)

Dalam bagian pertama, anda diharapkan untuk menyelesaikan sebuah tulisan mendeskripsikan sebuah grafik dalam waktu 20 menit, table, sebuah proses atau kombinasi dari ketiganya. Dalam bagian ke dua, anda punya waktu 40 menit untuk menulis sebuah essay akademis 250 kata. Ingat waktu. Bagian kedua lebih panjang dan lebih penting sehingga memerlukan waktu 40 menit. Jadi, pastikan anda bergerak sesuai dengan waktu.

Bagian pertama adalah tentang mendeskripsikan data dan membandingkan. Menawarkan penyebab dan alas an untuk data atau pergerakan grafik adalah buang waktu. Anda harus selalu coba untuk membandingkan data yang anda lihat, bukan hanya menuliskan informasi yang ada di depan anda. Harus sangat berhati-hati untuk membuat catatan mengenai tanggal, waktu dalam data dan menggunakan tenses yang benar.

Dalam bagian ke dua, analisa pertanyaan dengan seksama,

Dalam bagian ke dua, analisa pertanyaan dengan seksama, kumpulkan ide2 anda dulu, lalu pikirkan struktur paragraph yang anda akan buat, sebelum mulai menulis. Jangan keluar jalur topic dan pastikan menyisakan 5 menit pada akhir waktu untuk memeriksa pekerjaan anda. Dengan memiliki kesadaran akan kelemahan anda dalam menulis mendorong anda untuk mengunakan waktu ini untuk memeriksa kembali pekerjaan anda secara effektif.

Penguji akan mencari 4 ketika ia memeriksa tulisan anda. Isi (Apakah anda telah menjawab pertanyaan?), Grammar (apakah grammar sudah benar, dan apakah variasi dalam struktur grammar yang digunakan?), Kosa kata (apakah kosa kata yang digunakan tepat dan cocok, penulisan benar, dan apakah kosa kata yang digunakan bervariatif?), dan kohesi/kepaduan (apakah essay mempunyai struktur yang baik, apakah sudah digunakan kata penghubung secara efekti?)

Keberhasilan dalam tes menulis memerlukan latihan. Latihan tes menulis adalah sangat perlu, karna anda akan belajar dari kesalahan yang anda buat. Kalau anda cukup beruntung untuk memiliki seorang guru yang bisa membantu anda bersiap, pastikan bawa anda menganalisa kembali hasil koreksi yang guru anda buat. Dan jangan buat kesalahan yang sama di latihan menulis berikutnya.

Dalam bagian ke dua dari tes, coba untuk memberikan argumen yang seimbang. Kemukakan dua sisi argument. Kalau pendapat anda diminta, coba untuk menhadirkan dua sisi pendapat sebelum anda mengemukakan pendapat anda yang sebenarnya dengan jelas

Terakhir, tulislah dengan rapid an jelas dan buat tanda perbaikan dengan mencoretkan garis diatas bagian yang salah, daripada mengoret2nya. Tidak ada nilai untuk kerapian dan kebersihan, tapi tulisan yang kurang bagus bisa membuat penguji bersuasana hati tidak enak sehingga lebih besar kemungkinannya untuk ia memberikan nilai yang rendah untuk sebuah essay yang sebenarnya sudah lumayan!

Tes Speaking (Tes Berbicara)

Keberhasilan dalam tes berbicara berasal dari latihan dan rasa percaya diri. Rasa percaya diri adalah kunci, tapi juga sering bahwa rasa percaya ini baru muncul setelah banyak latihan. Ingat bahwa ini adalah tes berbicara, jadi berbicaralah sebanyak mungkin dan jangan hanya memberikan jawaban satu kata untuk pertanyaan. Dalam bagian ke dua, anda diharapkan untuk berbicara mengenai topic tertentu selama satu atau dua menit. Persiapkan dengan sebaiknya dengan menuliskan catatan sebanyaknya (keywords yang nanti akan membantu anda), dengan demikian meminimalisasikan resiko ‘otak kosong’ pada saat berbicara. Coba berbicara selama dua menit penuh sampai penguji meminta anda untuk berhenti, ini akan menunjukan kemampuan kemampuan anda untuk ‘lanjut terus’ dan akan menambah angka anda untuk kelancaran/kefasihan. Bagian ketiga mengandung pertanyaan abstrak,dimana bagian pertama dan kedua adalah pertanyaan tentang kamu dan topik2 yang kamu sudah familiar. Dengar dengan hati-hati pertanyaan yang diberikan, terutama dibagian ketiga dan tanggapi dengan baik. Jangan berbicara tentang diri anda dalam bagian ketiga.

Penguji akan member nilai berdasarkan 4 aspek dari kemampuan berbicara anda; ; kelancaran (kemampuan untuk terus berbicara), grammar (jenis dan ketepatan penggunaan), kosa kata (jenis dan ketepatan ) dan pelafalan. Persiapkan diri dengan mempelajari grammar dan kosa kata tapi jagan kuatir tentang grammar terlalu banyak ketika sedang tes, karna bila anda memikirkan bentuk grammar yang benar, akan mengakibatkan penurunan nilai dalam fluency (kelancaran)

Hari tes: Persiapan terakhir

Tes IELTS adalah sebuah tes yang panjang dan melelahkan. Jadi, pastikan bahwa anda tidur yang cukup dan makan pagi yang cukup. Penelitian menunjukkan bahwa sarapan yang mengandung protein adalah baik sebelum ujian, tapi sarapan yang mengandung karbohidrat harus dihindari. Jangan minum kopi terlalu banyak! Jangan melakukan revisi dimenit-menit akhir di hari ujian karna bila ternyata kamu mendapatkan hal baru, kamu akan panik dan malah akan menjadi tidak produktif. Yang paling baik kamu lakukan di jam-jam terakhir sebelum ujian adalah berbicara dengan menggunakan bahasa Inggris dengan keluar dan teman, atau baca ulang essay yang telah dikoreksi. Hanya itu.

Datanglah lebih awal ke pusat tes, sehingga memberikan waktu yang cukup seandainya jalanan macet. Kenali keadaan sekitar supaya anda merasa nyaman, dan coba intip ruang tes supaya anda bisa tau apa yang harus diharapkan. Pada saat menunggu, bicaralah dalam Bahasa Inggris kepada kandidat tes lainnya supaya otak kamu sudah di ‘English mode’.

Ingatlah bahwa tes IELTS ini bukanlah hal terbesar. Kalau anda belum mendapatkan nilai yang anda perlukan, anda masih bisa mengambilnya lagi…dan lagi (paling tidak sampai uang anda habis !). Bersiaplah sebaik mungkin, berlatih sebanyak mungkin dan jalani tes selangkah demi selangkah, dengan demikian kamu akan mendapatkan bandscore yang kamu perlukan dalam waktu yang singkat.

Untuk tips dan strategi yang lebih lengkap, dan untuk latihan ujian, ikutilah sebuah kursus IELTS Preparation. Di Jakarta, satu sekolah menjadi pemimpin dalam hal mempersiapkan kandidat untuk tes IELTS dengan cepat dan effektif. Untuk informasi lebih lanjut, ikuti link berikut ; IELTS Jakarta

a message from some friends of Aim:

Organic, recycled products & gifts for the green UK home Offers contemporary designed homewares for people who want to live stylishly, without harming the environment. The online store provides products for every room of the home, made from only organic, recycled or sustainable materials.